Berdasarkan masanya, imperialisme dibagi menjadi
tiga macam, yaitu:
1. Imperialisme kuno. Berlangsung pada zaman
kuno sampai abad pertengahan (+/- 1500 M). Imperialisme ini lebih menekankan
pada ekspansi atau perluasan wilayah yang dilakukan oleh negara kuat terhadap
negara lemah. Tujuannya adalah untuk menyebarkan agama (gospel), mengumpulkan
kekayaan (gold), dan mengejar kejayaan (glory).
2. Imperialisme modern. Berlangsung sekitar
tahun 1500 (ketika masa awal terjadinya revolusi industri) sampai berakhirnya
PD II (1945). Faktor ekonomi untuk menemukan daerah pemasaran hasil industri
dan mencari daerah penghasil bahan baku untuk keperluan industri menjadi latar
belakang terjadinya imperialisme modern ini. Negara-negara di kawasan Asia,
Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, dan Australia menjadi ajang perebutan
negara-negara imperialis yang berasal dari Eropa.
3. Imperialisme ultra modern (neokolonialisme).
Bukan lagi hanya ditujukan pada penguasaan ekonomi dan wilayah, melainkan lebih
ditekankan pada penguasaan mental, ideologi, dan psikologi. Imperialisme ini
berlangsung sesudah PD II sampai sekarang.
Dalam sejarahnya, faktor penyebab timbulnya
imperialisme adalah karena faktor ekonomi, yaitu keinginan untuk menguasai
wilayah-wilayah yang memiliki sumber daya alam potensial, kaya, dan subur.
Dengan demikian, baik kolonialisme maupun imperialisme sama-sama represifnya
(bersifat menindas).
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke dunia timur,
termasuk Indonesia, tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa-peristiwa di Eropa
pada abad ke-8 sampai dengan abad ke-13. Pada kurun waktu tersebut, di Eropa
telah berlangsung perubahan-perubahan yang dampaknya dirasakan sangat luas oleh
hampir seluruh negara di dunia, seperti munculnya Renaissance, Humanisme, dan
Aufklarung.
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/2266637-macam-macam-imperialisme/#ixzz3B0p9uQUz
KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME
Imperialisme
Imperialisme ialah sebuah kebijakan di
mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa
dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat
negara-negara itu menaklukkanatau menempati tanah-tanah itu.
Timbulnya Kata
Imperialisme
Perkataan Imperialisme
muncul pertama kali di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasankerajaan Inggris hingga suatu "impire" yang
meliputi seluruh dunia. Politik Disraeli ini mendapat opisisi yang kuat.
Golongan oposisi takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan
krisis-krisis internasional. Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian
pemerintah pada pembangunan dalam negeri dari pada berkecipuhan dalam sola-soal
luar negeri. Golongan oposisi ini disebut golongan "Little
England" dan golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil
Rhodes) disebut
golongan "Empire" atau golongan
"Imperialisme". Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme,
mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golangan Disraeli dari golongan
oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita
kenal sekarang.
Asal Mula Kata
Imperialisme
Perkataan imperialisme
berasal dari kata Latin "imperare" yang artinya
"memerintah". Hak untuk memerintah (imperare) disebut "imperium".
Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut "imperator".
Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu
lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah
daerah dimanaimperiumnya berlaku) disebut imperium.
Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka
raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut
negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh
orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain
hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini.
wele wele
Arti Kata Imperialisme
Imperialisme ialah
politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri
sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai"
disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat
dijalankan dengan kekuatanekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini
tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa
daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri. Apakah beda
antara imperialisme dankolonialisme? Imperialisme ialah politik yang dijalankan
mengenai seluruh imperium.Kolonialisme ialah politik yang dijalankan mengenai
suatu koloni, sesuatu bagian dariimperium jika imperium itu
merupakan gabungan jajahan-jajahan.
Macam Imperialisme
1. Imperialisme Kuno (Ancient
Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold,
gospel, and glory (penyebaran agama, kekayaan dan kejayaan). Suatu
negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan
menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri
dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.
2. Imperialisme Modern (Modern
Imperialism). Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi
industri. Industri
besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak
dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah
dan pasar bagi hasil-hasil industri, kemudian juga sebagai tempat penanaman
modal bagi kapital surplus.
Pembagian imperialisme
dalam imperialisme kuno dan imperialisme modern ini didasakan pada soal untuk
apa si imperialis merebut orang lain. Jika mendasarkan pendangan kita pada
sektor apa yang ingin direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan
pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:
1. Imperialisme politik. Si imperialis
hendak mengusai segala-galnya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya
itu merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik
ini tidak umum ditemui di zaman modern karena pada zaman modern oaham
nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme politik ini biasanya bersembunyi
dalam bentuk protectorate danmandate.
2. Imperialisme Ekonomi. Si imperialis
hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu
negara tidak mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka
negara itu masih dapat dikuasai juga jika ekonomi negara itu dapat dikuasai si
imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat disukai oleh
negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik.
3. Imperialisme Kebudayaan. Si imperialis
hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara
lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya
dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Si imperialis hendak melenyapkan
kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si
imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu
dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai
segala-galnya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme
yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan
dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan
diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.
4. Imperialisme Militer (Military
Imperialism). Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu
negara. Ini dijalankan untuk menjamin keselamatan si imperialis untuk
kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki sebagai
jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti
menguasai pula seluruh negara dengan ancaman militer.
Sebab-sebab
Imperialisme
1. Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi
bangsa yang terbesar di seluruh dunia(ambition, eerzucht). Tiap bangsa
ingin menjadi jaya. Tetapi sampai dimanakah batas-batas kejayaan itu ? Jika
suatu bangsa tidak dapat mengendalikan keinginan ini, mudah bangsa itu menjadi
bangsa imperialis. Karena itu dapat dikatakan, bahwa tiap bangsa itu mengandung
benih imperialisme.
2. Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa
itu adalah bangsa istimewa di dunia ini(racial superiority). Tiap bangsa
mempunyai harga diri. Jika harga diri ini menebal, mudah menjadi kecongkakan
untuk kemudian menimbulakan anggapan, bahwa merekalah bangsa teristimewa di
dunia ini, dan berhak menguasai, atau mengatur atau memimpin bangsa-bangsa
lainnya.
3. Hasrat untuk menyebarkan agama atau
ideologi dapat menimbulkan imperialisme. Tujuannya bukan imperialisme, tetapi
agama atau ideologi. Imperialisme di sini dapat timbul sebagai "bij-product" saja.
Tetapi jika penyebaran agama itu didukung oleh pemerintah negara, maka sering
tujuan pertama terdesak dan merosot menjadi alasan untuk membenarkan tindakan
imperialisme.
4. Letak suatu negara yang diangap
geografis tidak menguntungkan. Perbatasan suatu negara mempunyai arti yang
sangat penting bagi politik negara.
5. Sebab-sebab ekonomi. Sebab-sebab
ekonomi inilah yang merupakan sebab yang terpenting dari timbulnya
imperialisme, teistimewa imperialisme modern.
1. Keinginan untuk mendapatkan kekayaan
dari suatu negara
2. Ingin ikut dalam perdagangan dunia
3. Ingin menguasai perdagangan
4. Keinginan untuk menjamin suburnya
industri
Akibat Imperialisme
1. Akibat politik
1. Terciptanya tanah-tanah jajahan
2. Politik pemerasan
3. Berkorbarnya perang kolonial
4. Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)
5. Timbulnya nasionalisme
2. Akibat Ekonomis
1. Negara imperislis merupakan pusat
kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan
2. Industri si imperialis menjadi besar,
perniagaan bangsa jajahan lenyap
3. Perdagangan dunia meluas
4. Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)
5. Kapital surplus dan penanamna modal di
tanah jajahan
6. Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah
jajahan lenyap
3. Akibat sosial
1. Si imperialis hidup mewah sementara
yang dijajah serba kekurangan
2. Si imperialis maju, yang dijajah
mundur
3. Rasa harga diri lebih pada bangsa
penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah
4. Segala hak ada pada si imperialis,
orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa
5. Munculnya gerakan Eropa-isasi.
Kolonialisme
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah
negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk
mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah
tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang
digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama
kepercayaan bahwa moral dari
pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
Kolonialisme berasal dari kata colonia dalam
bahasa latin yang artinya tanah permukiman/ jajahan. Kolonialisme
tujuannya untuk menguras sumber-sumber kekayaan daerah koloni demi perkembangan
industri dan memenuhi kekayaan negara yang melaksanakan politik kolonial
tersebut.
Landasan Berpikir Kolonialisme
Sejak abad keenam belas, Eropa mulai menjajah berbagai belahan
dunia. Penjajah pertama adalah bangsa Spanyol di bawah pimpinan Christopher
Columbus. Dalam waktu singkat, penjajah Spanyol menyerbu Amerika Selatan.
Mereka memperbudak penduduk asli, ras masyarakat yang sebelumnya hidup damai.
Wilayah Amerika Selatan, yang kaya emas dan perak, dirampok oleh para penjarah
ini. Penduduk asli yang berusaha melawan dibantai.
Menyusul Spanyol; Portugis, Belanda dan Inggris turut ambil
bagian dalam memperebutkan daerah jajahan. Di abad kesembilan belas, Inggris
menjadi imperium kolonial terbesar di dunia. Dari India hingga Amerika Latin,
imperium Inggris mengeruk habis sumber-sumber kekayaan alam. Bangsa kulit putih
menjarah dunia demi kepentingannya sendiri.
Tentu saja kaum penjajah ini tak ingin dikenang sepanjang
sejarah sebagai “penjarah”. Karenanya, mereka berusaha mendapatkan pembenaran
bagi tindakannya ini. Mereka berdalih dengan menganggap bangsa terjajah sebagai
“kaum primitif atau terbelakang”, bahkan “makhluk mirip binatang”. Pandangan
ini pertama kali dikemukakan di masa awal penjajahan, masa ketika Christopher
Columbus berlayar menuju Amerika. Dengan menganggap penduduk asli Amerika bukan
manusia murni, tapi spesies binatang yang telah berkembang, penjajah Spanyol
membenarkan perbudakan yang mereka lakukan.
Saat peristiwa ini terjadi, dalih tersebut tidak mendapat
dukungan luas. Sebab, waktu itu masyarakat Eropa secara luas masih percaya
bahwa semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan dan semuanya berasal dari moyang
yang sama, yakni Nabi Adam.
Namun, segalanya berubah di abad kesembilan belas. Tumbuh
suburnya paham materialime menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan kenyataan
bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Ini juga berarti kelahiran paham rasisme.
Landasan ilmiah rasisme adalah teori evolusi Darwin. Ahli
antropologi India, Lalita Vidyarthi menyatakan:
Teori Darwin tentang “kelangsungan hidup bagi yang terkuat“
disambut hangat oleh ilmuwan sosial masa itu, dan mereka percaya bahwa manusia
meraih tangga evolusi yang berbeda, yang berpuncak pada peradaban bangsa kulit
putih. Hingga paruh kedua abad ke-19, rasisme diterima sebagai fakta oleh
mayoritas ilmuwan barat.
Dengan pandangan rasial seperti ini, Darwin memberikan dukungan
penuh bagi penjajahan oleh bangsa Eropa. Imperialisme Inggris zaman Victoria
mengambil teori Darwin sebagai dasar dan pembenaran ilmiahnya.
Peneori ketergantungan seperti Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya
menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah
pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.
Pengkritik
post-kolonialisme seperti Franz Fanon berpendapat bahwa kolonialisme merusak
politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi.
Penulis dan politikus
India Arundhati Roy berkata bahwa perdebatan antara pro dan kontra dari
kolonialisme/ imperialisme adalah seperti "mendebatkan pro dan kontra
pemerkosaan".
PERKEMBANGAN KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA
A. Kebijakan Pemerintah Kolonial Di Indonesia Pada Abad Ke-19 Dan Abad Ke-20
Pada tahun 1580 Raja
Philip dari Spanyol naik takhta. Ia berhasil mempersatukan Spanyol dan
Portugis. Akibatnya Belanda tidak dapat lagi mengambil rempah-rempah dari
Lisabon yang sedang dikuasai Spanyol.
Pada tahun 1549
Claudius berhasil menemukan kunci rahasia pelayaran ke Timur jauh. Claudius
kemudian menyusun peta yang disebut India Barat dan India Timur. Akan tetapi,
Claudius belum berhasil menemukan tempat-tempat yang aman dari serangan
Portugis. Belanda bernama Linscoten berhasil menemukan tempat-tempat di Pulau
Jawa yang bebas dari tangan Portugis dan banyak menghasilkan rempah-rempah utuk
diperdagangkan.
Pada tahun 1595
Cornelius de Houtman yang sudah merasa mantap, mengumpulkan modal untuk
membiayai perjalanan ke Timur Jauh. Pada bulan April 1595, Cornelis de Houtman
dan de Keyzer dengan 4 buah kapam memimpin pelayaran menuju Nusantara.
Atas prakarsa dari dua
dua tokoh Belanda, yaitu Pangeran Maurits dan Johan van Olden Barnevelt, pada
tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi
dagang besar yang diberi nma VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) atau
Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur.
VOC mengangkat seorang
gubernur jenderal yang dibantu oleh empat orang anggota yang disebut Raad van
Indie (Dewan India). Di bawah gubernur jenderal diangkat beberapa gubernur yang
memimpin suatu daerah. Di bawah gubernur terdapat beberapa residen yang dibantu
oleh asisten residen.
Pada tahun 1795 Partai
Patriot Belanda yang anti raja, atas bantuan Prancis berhasil merebut kekuasaan
dan membentuk pemerintah baru yang disebut Republik Bataaf (Bataafsche
Republiek). Republik ini menjadi bawahan Prancis yang sedang dipimpin oleh
Napoleon Bonaparte. Raja Belanda Willem V, melarikan diri dan membentuk
pemerintah peralihan di Inggris yang pada waktu itu menjadi musuh Prancis.
Letak geografis
Belanda yang dekat dengan Inggris menyebabkan Napoleon Bonaparte merasa perlu
menduduki Belanda. Pada taun 1806, Prancis (Napoleon) membubarkan Republik
Bataaf dan membentuk Koninkrijk Holland (Kerajaan Belanda). Napoleon kemudian
mengangkat Louis Napoleon sebagai Raja Belanda dan berarti sejak saat itu
pemerintah yang berkuasa di Nusantara adalah pemerintah Belanda-Perancis.
Louis Napoleon
mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jenderal di Nusantara.
Daendels mulai menjalankan tugasnya pada tahun 1808 dengan tugas utama
mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.
Sebagai seorang
revolusioner, Daendels sangat mendukung perubahan-perubahan liberal. Ia juga
bercita-cita untuk memperbaiki nasib rakyat dengan memajukan pertanian dan
perdagangan.
Pembaharuan yang
dilakukan Dandels dalam tiga tahun masa jabatannya di Indonesia adalah sebagai
berikut:
a) Pusat pemerintahan
(Weltevreden) dipindahkan masuk ke pedalaman.
b) Dewan Hindia
Belanda sebagai dewan legislative pendamping gubernur jenderal dibubarkan.
c) Membentuk
sekretaris negara
d) Pulau Jawa dibagi
menjadi 9 prefektuur dan 31 kabupaten.
e) Para Bupati
dijadikan pegawai pemerintahan.
Eduar Douwes Dekker
mantan Assisten Residen Lebak, Banten. Ia memprotes pelaksanaan tanam paksa
melalui tulisannya yang berjudul Max Havelaar. Tulisan tersebut mengisahkan
penderitaan Saijah dan Adinda akibat tanam paksa di Lebak Banten. Di daam
tulisan tersebut ia menggunakan nama samaran Multatuli yang artinya “saya
sangat menderita.”
Politik ekonomi
liberal colonial dilatarbelakangi oleh hal-hal sebagai berikut:
1) Pelaksanaan sistem
tanam paksa telah menimbulkan penderitaan rakyat pribumi.
2) Berkembangnya paham
liberalisme
3) Adanya Traktat
Sumatra pada tahun 1871 yang memberikan kebebasan bagi Belanda untuk meluaskan
wilayah ke Aceh.
B. Perkembangan Ekonom
Dan Demografi Di Indonesia Pada Masa Kolonial
Faktor alamiah seperti
keterpencilan dan adanya hutan-hutan tropis yang sulit ditembus, pertumbuhan
penduduk pada suatu daerah juga ditentukan olehperkembangan teknologi
pertanian, kesehatan, dan keamanan. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan
penduduk adalah ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian serta adanya proses
imigrasi, baik intern maupun ekstern.
Salah satu akibat dari
penetrasi bangsa Barat yang makin mendalam di Jawa adalah pertumbuhan penduduk
yang makin cepat. Hal itu disebabkan menurunnya angka kematian, sedangkan angka
kelahiran tetap tinggi. Menurunnya angka kematian disebabkan usaha kesehatan
rakyat oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Perbaikan distribusi makanan melalui
perbaikan jalan raya.
Pertumbuhan penduduk
antara tahun 1905 sampai 1920 agak tersendat-sendat. Hal itu akibat tingginya
angka kematian, yaitu sekitar 32,5 sampai 35 per seribu jiwa. Angka kematian
tertinggi terjadi pada tahun 1918 ketika wabah penyakit membunuh puluhan ribu
jiwa sehingga pertumbuhan penduduk terendah terjadi antara tahun 1917 sampai
1920, bahkan di beberapa daerah terjadi pengurangan.
Sesudah tahun 1920
pertumbuhan penduduk berlangsung dengan cepat. Antara tahun 1920 dan 1930
pertumbuhan penduduk pulau Jawa sekitar 17,6 per seribu jiwa.
Ketika sensus tahun
1930 diadakan, penduduk Indonesia telah berjumlah 60,7 juta jiwa. Dari jumlah
itu 41,7 juta jiwa berdiam di Pulau Jawa. Berdasarkan perhitungan pertumbuhan
penduduk di Indonesia sekitar 79,4 juta jiwa. Di Jawa jumlah penduduknya
sekitar 48,4 juta jiwa, sedangkan di daerah luar Jawa jumlah penduduknya
sekitar 22 juta Jiwa.
1. Migrasi Intern
Migrasi intern berarti
perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya satu pulau, baik secara
individu maupun kelompok.
Tidak meratanya
persebaran penduduk di beberapa wilayah di Nusantara mendorong terjadinya perpindahan
penduduk (migrasi). Tekanan sosial ekonomi dari daerah yang padat penduduknya
mendorong perpindahan ke wilayah yang masih jarang penduduknya dan punya
kemungkinan untuk dikembangkan.
Peperangan dan ancaman
keamanan juga merupakan faktor penting bagi terjadinya perpindahan pendduk
sejak zaman VOC.
Dibukanya jalan kereta
api yang menghubungkan Kalisat-Banyuwangi pada tahun 1901 merupakan salah satu
pendorong bagi migrasi dari Jawa Tengah ke ujung Jawa Timur yang masih kosong.
Oleh karena besarnya
migrasi orang Madura ke ujung timur Pulau Jawa mengakibatkan pada tahun 1930
diperkirakan hanya sekitar 45% suku bangsa Madura yang tetap tinggal di pulau
asal.
Perpindahan intern
yang lain, khususnya di Tapanuli dan Sumatra Barat terjadi karena dorongan
untuk mendapatkan daerah baru dan atas ajakan pemerintah Belanda untuk bekerja
di perkebunan.
Pada tahun 1926 naik
menjadi 26.000 jiwa, sedangkan pda tahun 1930 jumlahnya naik menjadi 42.000
jiwa. Sekitar 60% dari penduduk yang meninggalkan Tapanuli menetap di Sumatra
Timur. Pada tahun tersebut pendatang dari Toba-Batak hampir sama dengan jumlah
penduduk asli.
Orang-orang
Minangkabau, Sumatra Barat lebih banyak mengadakan migrasi iterern
perseorangan. Mereka bekerja sebagai pedagang atau tukang. Pada mulanya daerah
rantau mereka ialah kota-kota di Sumatra Barat. Sejak awal abad ke 20 banyak
dari mereka yang pindah ke Sumatra Timur dan Lampung. Diketahui pula bahwa
23,5% dari kepala keluarga di wilayah itu adalah wanita.
2. Migrasi Eksternal
Keterbukaan kesempatan
bekerja dan berusaha mendorong migrasi ekstern, yaitu perpindahan penduduk dari
satu pulau ke pulau lainnya baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri.
Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi dan politik pada zaman colonial tentu
saja menjadi pusat terpenting mobilitas ini. Dari jawa banyak mengalir migrant
ke pulau-pulau lain dan sebaliknya pendatang dari pulau lain banyak mencari
penghidupan baru ke Pulau Jawa.
Aliran pendatang ke
Pulau Jawa sebagai salah satu akibat dari daya tarik Jawa sebagai pusat
kegiatan yang berkaitan dengan modernisasi yang diperkenalkan oleh Pemerintah
Belanda. Pendidikan menengah dan tinggi terutama berada di kota-kota besar di
Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Migrasi kaum terpelajar dari
berbagai daerah, walaupun jumlah mereka tidak besar, merupakan salah satu
faktor penting dari berkembangnya nasionalisme Indonesia.
Selain golongan
terpelajar, ada pula pendatang-pendatang lain ke Pulau Jawa seperti pedagang,
pegawai, tukang, dan militer. Di Jawa Barat banyak pendatang dari Sumatra
Barat, Minahasa, dan Maluku. Di Jawa Tengah pendatang terbanyak dari Maluku. Di
Jawa Timur banyak pendatang yang berasal dari Minahasa dan maluku.
Migrasi ekstern dari
pulau Jawa yang terbanyak adalah ke Sumatra. Migrasi dari Jawa ke Sumatra Timur
disebabkan oleh pembukaan perkebunan-perkebunan besar, sedangkan migrasi dari
Jawa ke Lampung disebabkan oleh penyempitan areal pertanian karena pertambahan
jumlah penduduk.
Pelaksanaan emigrasi
yang dilakukan oleh pemerintah terjadi setelah pemerintah menerima laporan
tentang kemiskinan dari keresidenan Kedua. Pada tahun 1905 kelompok
transmigrasi pertama sebanyak 155 keluarga didatangkan dari kedu ke
Gedongtataan, Lampung, yang kemudian mendirikan sebuah desa. Sampai pada tahap
ini kelihatan kegagalan yang mencolok yang disebabkan sebagai berikut:
1) Pemerintah colonial
kurang mengadakan survey yang mendalam tentang daerah yang akan didatangi para
transmigran.
2) Para transmigran
kurang terseleksi. Banyak di antara mereka yang sudah tidak produktif karena
sudah tua.
3) Pemberian bantuan
kredit untuk para transmigran berjalan kurang baik.
4) Kesehatan kurang
terjamin sehingga angka kematian lebih tinggi dari angka kelahiran.
Dapat dikatakan bahwa
pada sepuluh tahun pertama dan kedua abad ke-20 transmigrasi berjalan
tersendat-sendat. Walaupun demikian, pada tahun 1930 di Lampung telah menetap
20.282 orang transmigran, sedangkan di Sumatra Timur dan Bengkulu masing-masing
berjumlah 4.767 dan 1.924 orang.
Baru pada sepuluh
tahun ketiga abad ke-20 transmigrasi besar-besaran diadakan. Pada masa ini
transmigrasi didasarkan pada 10 pantangan, di antaranya tidak memilih yang
bukan petani, orang tua, dan orang bujangan.
C. Kehidupan Sosial
Budaya Masyarakat Indonesia pada Masa Kolonial
Peraturan hukum
ketatanegaraan Hindia Belanda mengenai penggolongan penduduk di Nusantara
adalah sebagai berikut:
1. Golongan Eropa dan
yang dipersamakan terdiri dari:
1) bangsa Belanda dan
keturunannya
2) bangsa-bangsa Eropa
lainnya seperti Portugis, Prancis, dan Inggris, serta
3) orang-orang bangsa
lain (bukan Eropa) yang telah dipersamakan dengan Eropa karena kekayaan,
keturunan bangsawan, dan pendidikan.
2. Golongan Timur
Asing yang terdiri dari golongan Cina, Arab, India, dan Pakistan. Mereka berada
pada lapisan menengah.
3. Golongan pribumi
yaitu bangsa Indonesia asli (bumiputra) yang berada pada lapisan bawah.
Dalam masyarakat
pribumi dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan status sosialnya, yaitu
lapisan bawah, menengah, dan lapisan atas.
1. Lapisan bawah
adalah rakyat jelata yang merupakan penduduk terbesar dan hidup melarat,
bekerja sebagai petani dan buruh perkebunan.
2. Lapisan menengah
meliputi para pedagang kecil dan menengah, petani-petani kaya, serta pegawai.
3. Lapisan atas
terdiri atas keturunan-keturunan bangsawan atau kerabat raj yang memerintah
suatu daerah. Golongan ini biasanya disebut elite tradisional dan elite daerah.
Mobilitas geografis
adalah perpindahan tempat tinggal yang terwujud dalam migrasi ekstern maupun
migrasi intern dan urbanisasi, sedangkan mobilitas sosiologis berarti
perpindahan pekerjaan atau kedudukan seseorang. Mobilitas sosiologis dibagi
menjadi, mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal. Mobilitas horizontal
berarti perubahan status atau pekerjaan seseorang tetapi dalam kelas atau
tingkat sosial yang sama. Mobilitas vertikal berarti perubahan status atau
pekerjaan seseorang naik dari tingkat bawah ke tingkat yang lebih atas.
Dengan demikian kita
mengenal bermacam elite Indonesia baru, seperti elite politik, elite budaya,
dan elite agama. Kesemuanya bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan
nasional, mereka pun disebut sebagai elite nasional.
Pemerintah Kolonial
Belanda merasa perlu memberikan perhatian khusus dalam menghadapi masyarakat
Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Dalam sejarah colonial Belanda,
ternyata ideology Islam merupakan kekuatan yang besar sekali dalam mengadakan
perlawanan terhadap kekuatan asing di berbagai daerah. Contohnya Perang Padri,
Perang Diponegoro, Perang Aceh, serta pemberontakan petani seperti peristiwa
Cilegon dan Cimareme, semua dipimpin oleh pemuka Islam dan dijiwai oleh
ideology Islam.
Snouck Hurgronje yang
telah mempelajari Islam secara cukup mendalam tiba di Nusantara pada tahun
1889. Sejak saat itu, politik terhadap Islam atas nasihatnya mulai didasarkan
atas fakta-fakta dan bukan atas rasa takut belaka. Ia mengemukakan bahwa tidak
setiap pemimpin Islam bersikap bermusuhan dengan pemerintah colonial dan orang
yang baru pulang naik haji tidak dengan sendirinya menjadi orang fanatic dan
suka memberontak.
Kebijakan yang
diajukan oleh Snouck Hurgronje ini merupakan bagian dari pandangan tentang masa
depan Nusantara. Menurutnya, orang Islam di Nusantara hanya dapat menerima pemerintahan
asing secara terpaksa. Dalam menghadapi Islam, penguasa colonial dapat
mengharapkan dukungan dari kaum adat. Akan tetapi, golongan itu tidak kuasa
menahan pengaruh, baik dari perkembangan Islam maupun dari proses modernisasi
sehingga politik ini pun tidak dapat diharapkan untuk mencapai tujuan jangka
panjang.
Ia menyarankan agar
dilakukan perubahan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang “dimodernkan”
dengan budaya barat (westernisasi).
Kejadian-kejadian
sekitar tahun 1912-1916 ketika Sarekat Islam sedang berkembang pesat,
menunjukkan betapa peranan ideology Islam dalam menggerakkan rakyat. Ternyata
untuk masyarakat tradisional perbedaan yang diuat oleh Snouck Hurgronje
tidaklah sesuai.
Walaupun demikian,
beberapa pejabat seperti Snouck Hurgronje, Rinkes, Gonggrijp menyarankan agar
Sarekat Islam diakui pendiriannya karena mereka berpandangan bahwa keberadaan
Sarekat Islam merupakan kebangkitan suatu bangsa untuk menjadi dewasa, baik
dalam bidang politik maupun sosial.
Organisasi Islam berikutnya
yang muncul setelah Sarekat Islam adalah Muhammadiyah. Organisasi ini bersifat
reformis dan nonpolitik. Kegiatan-kegiatannya dipusatkan dalam bidang
pengajaran, kesehatan rakyat, dan kegiatan sosial lainnya.
Menjelang abad ke-20
terjadilah perubahan-perubahan masyarakat di Indonesia, khususnya disebabkan
oleh terbukanya negeri ini bagi perekonomian uang.
Gagasan tentang
kemajuan itu juga muncul pada diri R.A. Kartini (1879-1904). Gagasannya
tersebut dituangkan dalam surat-surat pribadinya yang diterbitkan pada tahun
1912 atas usaha J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis
Gelap Terbitlah Terang). Penerbitan buku itu menimbulkan rasa simpati mengenai
gerakan emansipasi wanita di Nusantara.
Keadaan gadis-gadis
seperti yang dialami Kartini, juga terdapat di daerah Pasundan. Seorang guru
Belanda yang berada di Indonesia pada tahun 1913 menulis tentang keadaan wanita
Sunda. Dalam tulisannya tersebut ia mengemukakan bahwa kehidupan wanita Sunda
melalui tiga periode, yaitu sebagai berikut:
a. Masa kanak-kanak
yang penuh kegembiraan
b. Masa kehidupan
patuh sebagai istri dan ibu
c. Masa penuh pengaruh
sebagai nenek
Kehidupan gadis
semacam itu sebenarnya hanya terdapat pada kalangan menak (bangsawan) yang
berbeda dengan gadis-gadis dari kalangan petani maupun pekerja. Keterbelakangan
pendidikan menjadi pola yang umum pada mereka. Pada golongan petani dan
pekerja, perkawinan di bawah umur sering terjadi seperti halnya pada golongan
menak. Oleh karena itu, Kartini sangat mendambakan pengajaran bagi gadis-gadis.
Fase berikutnya dari
gerakan wanita Indonesia diawali dengan berdirinya sebuah Perkumpulan Putri
Mardika. Perkumpulan itu bertujuan untuk mencari bantuan keuangan bagi
gadis-gadis yang ingin melanjutkan pelajaran. Sedangkan Perkumpulan
Kartinifonds (Dana Kartini) didirikan pada tahun 1912 atas usha Tuan dan Nyonya
C. Th. Van Deventer yang bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah Kartini.
Sekolah yang pertama didirikan di Semarang pada tahun 1913, kemudian menyusul
di kota-kota Jakarta, Malang, Madiun, dan Bogor.
Sementara itu muncul
banyak sekali Perkumpulan wanita, antara lain Madju Kemuliaan di Bandung
Pawijatan Wanita di Magelang, Wanita Susilo di Pemalang, dan Wantia Hadi di
Solo. Organisasi keagamaanpun memiliki bagian organisasi kewanitaannya, seperti
Wanito Katholik, Aisyiah dari Muhammadiyah, Nahdlatul Fataad dari NU, dan
Wanudyo Utomo dari SI.
Di samping
organisasi-organisasi wanita, terdapat juga surat kabar dan majalah wanita yang
berfungsi sebagai penyebar gagasan kemajuan kaum wanita dan juga sebagai media
pendidikan dan pengajaran. Pada tahun 1909 di Bandung terbit Poetri Hindia,
walaupun dengan redaksi kaum laki-laki. Di Brebes pada tahun 1913 terbit Wanito
Sworo yang dipimpin oleh seorang guru dari Ponorogo. Wanito Sworo terbit dengan
menggunakan bahasa dan huruf Jawa. Sebagian juga dalam bahasa Melayu. Isinya
mengenai kewanitaan praktis.
Poetri Merdika di
Jakarta merupakan surat kabar yang sangat maju pada tahun 1914.
Artikel-artikelnya tertulis dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa. Melalui
terbitnya Poetri Merdika, semangat emansipasi wanita beserta masalah-masalah
yang terkait dengannya didiskusikan. Perpaduan pendidikan antara kaum laki-laki
dan perempuan, pemberian kelonggaran bergerak bagi kaum putri, berpakaian
Eropa, serta kesempatan pendidikan dan pengajaran merupakan bahan perdebatan
yang cukup menarik.
Beberapa surat kabar
yang lain misalnya, di Semarang terbit Estri Oetomo, di Padang terdapat Soera
Perempuan dengan redaksi Nona Saadah yang seorang guru HI, di Medan terbit
Perempoean Bergerak dengan redaksi Parada Harahap.
Kongres wanita pertama
diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 setelah mendapatkan pengaruh dari
diselenggarakannya Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah
Pemuda. Kongres Wanita tersebut melahirkan Perserikatan Perhimpunan Istri
Indonesia (PPII). Tanggal 22 Desember kemudian diperingati sebagai hari ibu
sebagai hari lahirnya kesadaran yang mendalam wanita Indonesia tentang
nasibnya, kewajibannya, kedudukannya, dan keangotaannya dalam masyarakat.
Berbeda dengan PPII, Istri Sedar yang didirikan di Bandung pada
tanggal 27 Maret 1923 semata-mata merupakan organisasi politik. Pada tahun
1932, setelah kongresnya yang kedua, salah satu programnya adalah menyokong
suatu pendidikan nasional yang berdasarkan kebutuhan kaum melarat dan atas
dasar-dasar kemerdekaan dan percaya kepada diri-sendiri. Tahun 1932 merupakan
tahun perlawanan umum terhadap undang-undang. “sekolah liar” yang kemudian
menjadi tema sebuah novel Suwarsih Djojopuspito berjudul Buiten het Gareel
(Diluar Kekangan). Suwarsih adalah istri Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres
Pemuda II) yang pada waktu itu menjadi pimpinan Sekolah Taman Siswa, Bandung.
Selain itu bukunya tersebut juga menggambarkan betapa eratnya Taman Siswa dan
gerakan nasional serta pandangan penulisnya sebagai penganut feminisme dan
nasionalisme yang terkandung dalam Istri Sedar.